Fish

Sabtu, 25 Mei 2013

Makalah Westernisasi



WESTERNISASI (BUDAYA BARAT)

Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Prof. Hj. Sri Suhanjati





Disusun Oleh
IBNATUL AWALIA            (124411022)


 
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013



I.                   PENDAHULUAN
Tahun 1924, Khilafah Turki Utsmaniyah runtuh meninggalkan peradaban yang pernah menguasai sepertiga bumi di bawah panji keislaman. Kejayaan Islam lenyap begitu saja bagaikan terkubur bersama reruntuhan istana Istambul. Hegemoni pemikiran Barat muncul dan berkembang di negara-negara yang dulunya bersatu di bawah aqidah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW. Sejak itu negara-negara Islam dijajah dan dibodohi dalam segala bidang, baik dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan. Berbagai pemikiran dan sistem yang memiliki pengaruh negatif terhadap agama Islam ditanamkan terhadap umat Islam sendiri. Telah jelas bahwa mereka tidak akan puas sampai umat Islam itu hancur atau masuk ke dalam agama mereka.
Berbagai daya upaya terus diusahakan untuk menghancurkan Agam Islam diakibatkan kedengkian dan kebencian mereka terhadapnya. Salah satu upaya itu ialah dengan Westernisasi.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa Pengertian Westernisasi ?
B.     Bagaimana Sejarah Munculnya Westernisasi ?
C.     Apa Faktor-Faktor Pendorong Westernisasi  ?
D.    Apa Manfaat dan Dampak Westernisasi Bagi Umat Islam ?

III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Westernisasi
Westernisasi berasal dari kata western yang artinya barat. Westernisasi berarti proses pembaratan, pengambilalihan, atau peniruan budaya barat. Unsur budaya yang paling cepat ditiru umumnya adalah budaya material.[1] Jadi, Westernisasi adalah suatu kesatuan paham yang membentuk suatu gaya hidup yang masuk ke dalam sistem secara totalitas,[2] atau dengan pengertian yang hampir sama bahwa westerinasi adalah proses transformasi nilai-nilai yang berasal dari barat ke dalam masyarakat lain (other).[3] Tentunya nilai yang ditransformasikan di sini adalah nilai-nilai way of life, tidak hanya transformasi teknologi dan ilmu semata. Sebagai contoh budaya pakaian dalam pernikahan, gaya hidup, dan budaya ulang tahun. Hal inilah yang membedakan antara modernitas dan westrernisasi, walaupun secara sederhana di antara kedua term tersebut hampir memiliki kemiripan sehingga terdapat bias makna.
Menurut Antony Black kehadiran westernisasi yang sebenarnya baru dimulai sejak tahun 1700-an, muncul sebuah hubungan baru antara Islam yang di bawah pemerintahan Utsmani dengan Barat. Pada awalnya proses westernisasi waktu itu berjalan dengan lamban, selama abad ke-18 interaksi antara peradaban Islam dengan barat sangat terbatas. Dalam bidang fikih tampak tidak ada perubahan. Sehingga dapat dipahami bahwa politik Utsmani mempertahankan pola-pikir dan kebiasaan yang tradisional. Hanya beberapa birokrat kesekretariatan yang menguasai bidang administrasi mulai terbuka terhadap kebiasaan dan ide-ide barat.[4]

B.     Sejarah Munculnya Westernisasi
Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, orang-orang yang berpandangan Timur di dunia Islam, mulai memodernisasi dan memperkuat tentara mereka dengan cara mengirim kader-kadernya ke negara-negara Eropa, atau dengan mendatangkan para ahli dari Barat untuk mengajar dan membuat perencanaan bagi kebangkitan modern. Hal ini dilakukan dalam rangka menghadapi usaha keras orang-orang Barat dalam memperluas pengaruh kolonialisme mereka sesudah masa kebangkitan Eropa. Perjalanan westernisasi dapat ditelusuri sejak tahun 1860 M ketika gerakan ini memulai aktifitasnya di Libanon melalui para zending Kristen. Dari sanalah kemudian merambat ke Mesir. Di bawah naungan Khudaiwi Ismail yang akan menjadikan Mesir sebagai bagian dari Eropa. Kemajuan westernisasi berkembang pesat setelah orang-orang Ittihad (Persatuan) menguasai pemerintahan Turki Utsmani dan jatuhnya Sultan Abdul Hamid pada tahun 1924 M Kemudian pada tahun 1924 M pemerintahan Turki baru yang dipimpin Kamal Ataturk menghapus sistem khilafah Utsmaniyyah. Perubahan inilah yang menyeret Turki ke jurang sekularisme modern. Dengan keras dan kejam gerakan westernisasi dalam segala bentuknya dipaksakan di bumi Turki.
C.     Faktor-faktor Pendorong Westernisasi
Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya westernisasi. Faktor- faktor pendorong tersebut antara lain:
1.      Kekalahan Pasukan salib Pasukan salib telah menderita kekalahan berulang kali setelah perang Hiththin. Orang-orang Turki Osmani menaklukan ibukota Bizantium dan pusat gereja mereka pada tahun 1453 M. kemudian kota tersebut dijadikan ibu kota Turki dan namanya diubah menjadi Istambul, yakni Dar al-Islam (Negara Islam). Selain itu pasukan Islam Turki dapat sampai ke Eropa dan menggempur Wina pada tahun 1529 M. penggempuran ini berlangsung sampai tahun 1683 M. semua itu diawali dengan jatuhnya Andalusia yang dijadikan pusat pemerintahan dinasti Umawiyah. Peristiwa-peristiwa tersebut mendorong munculnya westernisasi sebagai upaya menebus kekalahan yang mereka derita selama itu.

2.      Keinginan bangsa Barat untuk menguasai dunia Melalui westernisasi ini dunia barat mecoba mempengaruhi hampir semua manusia untuk mengikuti kebudayaanya. Hal ini dilakukan supaya tidak ada kebudayaan lain yang mempunyai karakteristik dan keunikan tersendiri yang dapat menandingi bangsa barat oleh karena itu di bentuklah westernisasi.
3.      Keinginan untuk menghancurkan islam seperti yang kita ketahui bahwa islam sangat besar pengaruhnya terhadap dunia. Islam mempunyai kebudayaan yang unik dan berbeda dengan kebudayaan lain yang dapat menunjukkan identitas keislamannya. Oleh sebab itu maka westernisasi lahir sebagai upaya untuk menghilangkan keunikan identitas islam tersebut sampai menggerogoti syariat-syariat islam sehingga orang islam dengan sangat mudah terpengaruh dengan budaya barat.
D.    Manfaat dan Dampak Westernisasi
1.      Manfaat Westernisasi
·         Perubahan Tata Nilai dan Sikap Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.
·         Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.
·         Tingkat Kehidupan yang lebih Baik Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.


2.      Dampak Westernisasi
·         Westernisasi melahirkan sekularisasi. Sekularisasi adalah mengasingkan agama dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan ide ini masyarakat dicegah untuk melibatkan peran dan fungsi agama dalam mengatur urusan-urusan politik
·         Westernisasi memunculkan demokratisasi dan liberalisasi. Kedua paham tersebut berasal dari dunia barat, dengan adanya westernisasi secara tidak langsung paham tersebut mempengaruhi pola dan pikiran kita dalm dunia pemerintahan maupun perekonomian.
·         Hilangnya tradisi dan budaya asli. Dengan adanya westernisasi orang lebih banyak menghambakan kebudayaan-kebudayaan asing daripada kebudayaan sendiri.
·         Dapat mengakibatkan turunnya moral penduduk suatu negara yang terkena dampak westernisasi. Misalnya, dunia malam membuat bangsa indonesia terjebak dalam hal-hal yang bersifat negatif dan tidak sesuai dengan etika negara indonesia.
·         Gaya Hidup Kebarat-baratan. Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain.
·         Sikap Individualistik Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.
·         Pola Hidup Konsumtif. Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

IV.             KESIMPULAN
Westernisasi adalah sebuah arus besar yang mempunyai jangkauan politik, sosial, kultural dan teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan bangsa-bangsa, terutama kaum muslimin, dengan gaya Barat. Westernisasi pada hakikatnya merupakan perwujudan dari konspirasi Kristen-Zionis-Kolonialis terhadap ummat Islam. Mereka bersatu untuk mencapai tujuan bersama, yaitu membaratkan dunia Islam agar kepribadian Islam yang unik terhapus dari muka bumi ini. Gerakan westernisasi telah mampu merembes hampir di setiap negara di dunia Islam dan negara-negara Timur. Dengan diam-diam masyarakatnya terseret ke dalam peradaban Barat yang materialistik dan modern. Akibatnya mereka terikat oleh roda peradaban Barat.
Segala sesuatu ada dengan membawa manfaat dan dampak pada kehidupan tidak terkecuali westernisasi. Banyak manfaat dan dampak yang dibawa oleh westernisasi untuk negara-negara Timur.
V.                PENUTUP
Alhamdulillah wa syukurillah. Makalah ini dapat terselesaikan. kami menyadari sepenuhnya, bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam referensi maupun penulisannya. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan pembuatan makalah berikutnya.
Demikian makalah ini kami buat, semoga bermanfaat untuk pembaca pada umumnya dan pemakalah pada khususnya. Amin.





DAFTAR PUSTAKA

Black, Antony. Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, terj. Abdullah Ali, et. al. Jakarta: Serambi, 2006.

Madjid, Nucholish. Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 2008.
Murdiyatmoko, Janu, Sosiologi: Memahami dan Mengkaji Masyarakat, Bandung: Grafindo, 2007.

Rahardjo, M. Dawam. Intelektual, Inteligensia, dan Perliku Politik Bangsa. Bandung: Mizan, 1996.

 



[1] Janu Murdiyatmoko, Sosiologi: Memahami dan Mengkaji Masyarakat, (Bandung: Grafindo, 2007) hal. 21
[2] Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan (Bandung: Mizan, 2008), hal. 201.
[3] M. Dawam Rahardjo, Intelektual , Inteligensia, dan Perliku Politik Bangsa (Bandung: Mizan, 1996), hal. 13.
[4] Antony Black, Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, terj. Abdullah Ali, et. al (Jakarta: Serambi, 2006), hal. 496.